Login

Silahkan login dengan username dan password yang telah anda dapatkan

Login

 



STMM Jawab Tantangan di Era MEA

 SUMBER daya manusia dengan keterampilan khusus menjadi salah satu syarat mutlak Indonesia bersaing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Perguruan tinggi sebagai pencetak SDM mempunyai tanggung jawab yang semakin besar. Terutama PT yang menyelenggarakan program studi jenjang diploma seperti Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) Yogyakarta. Pengalaman STMM di bidang multimedia siap memberi kontribusi yang lebih besar dalam pengembangan SDM bidang pertelevisian, radio, animasi, hingga desain teknologi permainan (game).

Menteri Kominfo Rudiantara, pada sambutan wisuda STMM 3 Desember 2015 mengungkapkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat perluasan urbanisasi paling tinggi di dunia. “Tahun 2025 diperkirakan mencapai 68 persen,” katanya.

Perubahan struktural perekonomian satu dasawarsa terakhir ini, lanjutnya telah mengubah permintaan keterampilan di pasar tenaga kerja ke arah keterampilan khusus dan pendidikan yang lebih tinggi.

“Oleh karena itu diperlukan lembaga pendidikan tinggi yang mampu memenuhi permintaan pasar tenaga kerja dan mampu menciptakan konsep yang berorientasi pada azas link and match, antara pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja,” terangnya.

Masih terkait dengan hal itu, data ketenagakerjaan Indonesia masih menunjukkan angka pengangguran yang tinggi akibat tidak adanya keterampilan. Angka pengangguran terbuka penduduk usia 15-24 tahun diperkirakan mencapai 22,2 persen pada Agustus 2014, dan 18,3 persen pada Februari 2015.

Meski ada penurunan angka pengangguran 5 persen hingga 6 persen sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014 penggangguran terbuka berpotensi menjadi masalah. “Pengangguran terbuka menjadi tantangan apabila terjadi perubahan ekonomi,” jelasnya.

Praktik

STMM yang cikal bakalnya dimulai dari Multi Media Training Centre (MMTC) tentu sudah mempersiapkan hal itu. Jauh sebelum MEA, lembaga yang berdiri sejak tahun 1985 ini telah melatih dan menghasilkan tenaga-tenaga profesional.

Salah satu kuncinya adalah kurikulum diploma 4 yang menitikberatkan pada praktik tanpa mengabaikan mata kuliah teori. Kegiatan praktik selain dibimbing para pengajar yang kompeten juga didukung sarana yang memadai. Studio untuk praktik pertelevisian, radio, sudah dirancang dengan kebutuhan standar profesional. (link : Sarana Penunjang Akademik) (Sony)